Akirnya saya pindah.
Wacana pindah yang sudah menghantui pikiran sejak bbrp tahun lalu.
Ketakutan dipindah kerja memang sepertinya sudah jadi kekhawatiran massal karyawan dikantor kami.
Sedikit informasi bahwa kantor kami rajin banget muter-muterin orang. tujuannya refreshment. Entah efektif atau enggak, tapi memang menurut saya pribadi memang seharusnya begitu. Sebagai upaya perusahaan mempertahankan kinerja karyawan supaya tetep 'On'.
Tapi ya gitu, saya juga nggak mau dipindah.
Apa daya, saya nggak punya kuasa apapun untuk menghindari itu, dan akhirnya.... disinilah saya.
Saya dipindah mutasi (nggak promosi. catat!) ke Jakarta. Dari Bandung, kota kecintaan saya. Kota dimana saya tumbuh besar dari imut sampe setua ini... hihihi... kota yang bagaikan Rahim buat saya, tempan indah nan permai, nyaman banget. setiap sudut saya kenal dengan baik. Daaan... saya harus pindah ke Jakarta. Ja-kar-ta. yang buat saya seperti kota yang kejam, individualis, egois, sombong, macet, panas, susah... aaarrgh dengan segala tantangan yang tampak berat didepan mata... akankah saya bias bertahan....
itu pikiran saya sekitar 4 bulan yang lalu. sekarang kayaknya nggak lagi ,,, hehe
ternyata saya bias melaluinya dengan baik. Nggak seserem yang dibayangkan semula.
Persiapannya emang heboh. Awal banget saya merencanakan pindah kota seorang diri, tanpa suami dan anak2 saya. 2 bulan sblm fix pindah segala macem pilihan tempat kost sudah tertata rapi dalam list untuk di survey. mulai dari kost deket kantor sampe apartemen type studio, dengan kisaran harganya masing-masing.
Lanjut survey, check. pilihan sudah ditetapkan di area sekitar kantor yang cukup hanya jalan kaki 5 menit sampe kantor.
Aktvitas sampinganpun sudah disiapkan untuk mengisi malam-malam sendiri di kost tanpa anak dan suami. Selain opsi ambil kuliah lagi, sudah pasti saya akan menjahit... hahaha... kebayang akan seproduktif apa saya nanti.. begitu pikiran saya.
Tapi... kenyataan ga begitu.
2 minggu sebelum pindah, pikiran saya berubah drastis. entah kenapa, tiba-tiba saya memutuskan (levelnya memutuskan lho, bukan mempertimbangkan), untuk bawa serta anak-anak.
itu kejadiannya di minggu terakhir bulan puasa. Ingat kan, anak2 baru selesai UAS, naik kelas. PAS BANGET kata pikiran saya begitu.
Daan, aktifitas darurat dan dadakanpun dilakukan. Cari sekolah pindahan baru, nego sama kepala sekolah untuk menunda pendaftaran ulang krn blm tentu sekolah baru menerima, minta kebijakan kalo nanti bias sewaktu2 balik ke sekolah lama kalo ternyata gak betah (tanpa bayar lagi tentunya).
termasuk cari KONTRAKAN buat rumah kami nanti.
selepas lebaran satu persatu persiapan tuntas. Sekolah baru sudah ok, tinggal bayar dan urus seragam buku ketemu walas baru dll.. dll.. dll (dan lain-lainnya banyak banget).
Kontrakan, Alhamdulillah dapat kemudahan. Rumah sodara yg lokasinya familiar dan dekat sekolah, fully furnish pula.. alangkah Tuhan berbaik hati dengan kami, semua dimudahkan.
....
...
..
.
Gak dirasa, sekarang sudah memasuki tahun ke-2, sudah waktunya bayar kontrakan lagi... gak kerasa ternyata saya dan anak2 bias bertahan dibelantara Jakarta. Sekarang saya bias berpikir. Hijrah itu tidaklah sulit. ternyata, kalo kita iklash dan sabar dan berpikiran positif, kita bisa kok. Nggak sesulit itu. kehidupan kami nggak ada yg berubah drastis. Anak2 enjoy dengan teman dan aktifitasnya. Memang perlu sedikit waktu untuk penyesuaian. Sekarang mereka cukup bahagia dgn lingkungannya. Malahan si anak ke-2 udah gamau lai pindah ke Bandung... hahaha....
Thanks Ya Allah, kau mudahkan urusan kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar