Rumpi asik ditemani secangkir kopi...

Rumpi asik ditemani secangkir kopi...

Sabtu, 12 Maret 2016

Edisi introspeksi diri, Hargai apa yang kita punya - Keluarga

Saya terperangkap dalam 2 hal yang paling sulit di dunia.

Di sebagian hal, semua berjalan begitu lambat sehingga saya setengah mati bersabar agar saya tetap dapat menjalaninya.

Di sebagian yang lain, semua berjalan begitu cepat, menuntut saya sampai saya setengah mati keep up dengannya.

Life. Butuh kesabaran. Not one of my better virtue.

Dikutip dari bukunya Mark Levin.. judulnya… apa ya?... duh lupa.. if only?
kali ini seriusan dikit yaa, sesekali perlu kita introspeksi, bercermin diri sehingga nggak rugi diri atas hidup indah yang sudah diberikan untuk kita..
?… dan pernyataan itu menggelitik hati, mengetuk,.. menyentuh...
sehingga saya terdorong untuk menyimpan makna tulisan tersebut dalam tulisanku sendiri untuk direnungkan sendiri…
sebenernya saya nulis ini sudah lama. Lama sekali, tapi kemudian saya teringat, bahwa nggak ada salahnya kalo tulisan ini saya dokumentasikan dan di share sehingga pembaca bisa mengambil hikmah dari isi tulisan ini....

Dikisahkan oleh 2 orang tokoh utama, perempuan dan laki-laki. Disalah satu adegan ceritanya penulisnya nulis begini..

 
Si Perempuan mengajukan usul pada si laki-laki …  untuk membuat suatu permainan,

Ia meminta kepada si laki-laki untuk membayangkan bahwa dia memenangkan suatu lomba dengan hadiah sebagai berikut  : Setiap pagi sebuah bank memasukkan uang sejumlah 86.400 dolar (atau setara dengan sekitar Rp. 700.000.000) kedalam rekeningnya. Akan tetapi permainan itu punya suatu aturan juga, dmana :

 

“Aturan Prtama, uang yang tidak berhasil dibelanjakan hari itu akan hangus pada malam harinya saat kau berangkat tidur. Kamu ga bisa curang, tidak bisa mentransfer uang itu ke rekening lain, dan hanya bisa membelanjakannya. Tapi setiap pagi pada saat bangun, Bank akan membuka rekening baru dengan 86.400 dolar, begitu terus setiap hari. 





“Aturan kedua, bank dapat menghentikan permainan tanpa pemberitahuan. Kapan pun, bank dapat  memutuskan bahwa permainan sudah selesai, rekening ditutup, dan tidak ada lagi yang lain."


Nah apa yang akan kau lakukan?

Dalam cerita itu si laki-laki spontan menjawab dengan penuh semangat….

bahwa ia akan membelanjakan setiap dolar untuk kesenangannya sendiri, bersenang-senang… sepuasnya… lalu… mmmh… memberikan hadiah untuk orang-2 yang dicintainya.

Pacar… ayah… ibu…. Adiik2,.. kakak.,,,,

Lalu…. Sisa uangnya??.. untuk siapa lagi??  Karena bila tidak dibelanjakan uang akan hangus begitu kau pergi tidur… desak si perempuan..

Si laki-laki, masih dengan semangat berkata… akan berusaha menggunakan setiap sen yang diberikan “bank ajaib” untuk menghadirkan kebahagiaan untuk orang-2 disekitarnya, teman.. sahabat, tetangga, .....

Saudara-saudara jauh yang bahkan ‘hampir tak pernah jumpa…’ bahkan mungkin setelah habis pikir untuk apa lagi uang it baru terpikir untuk orang2 yg selama ini tak pernah tersentuh bahkan sekedar say hai di telepon or emailpun.

…. bahkan akhirnya orang-2 yang tak dikenal, karena rasanya ia tidak dapat menghabiskan 86.400 dolar sehari hanya untuk dirinya sendiri dan orang-2 dekat saja.

….lalu…??,

Lalu… siaapa lagi?... ia mulai terdiam… berpikir…

Akhirnya dia menyerah…

Berpaling pada si perempuan untuk mencari jawaban…
 
Akhirnya si perempuan menjawab..:

Kita semua memiliki rekening “Bank ajaib” itu, kau tahu apa itu? … ia adalah sang waktu!

Rekening yang berlimpah dengan detik-detik yang mengalir satu persatu. Setiap pagi kita bangun, kita akan diberikan 86.400 detik kehidupan dalam sehari, dan ketika kita tidur pada malam hari, tidak ada yang dapat dipindahkan ke esok harinya. Yang tidak dinikmati hari itu akan hilang, kemarinpun sudah berlalu.. tak bisa ada sesal…

Setiap pagi keajaiban itu berulang, kembali diberi 86.400 detik … begitu seterusnya, hingga manusia tidak lagi menghargai detik-demi detik yang terus berlalu …. Tanpa makna…

dan kita bermain dengan aturan main yang tak dapat dihindari, yaitu bank dapat menutup rekening kapan saja tanpa pemberitahuan sebelumnya.. 

setiap saat, hingga tiba pada saatnya … jarum jam berhenti tepat menunjuk pada diri kita…

kehidupan berhenti. Musnah… tiada lagi apapun ...tidak ada kecuali…

Jadi apa yang akan kita lakukan dengan 86.400 detik setiap hari? Tidakkah detik-detik kehidupan itu lebih penting dari pada uang?

Kalau kau ingin tahu apa arti satu kehidupan? Bertanyalah pada orang yang baru saja divonis dokter bahwa hidupnya tak akan lama lagi…

Betapa detik demi detik berlalu tanpa kompromi bahwa dia harus berusaha semaksimal mungkin memanfaatkan waktunya, berusaha memahami dan siap kapanpun jarum jam akan berhenti berdetak……

Sedangkan kita? Apa yang sudah kita lakukan untuk waktu yang demikian terbatas itu?

Apa coba? .

Bangun siang? Ngomel… nggosip… brantem, bikin dosa…

Think about it…my friends….

….

….

Duh gustii… ampuni aku.. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar